Selasa, 28 September 2021

Komorbid


Komorbid

By tundjung

Aku agak cenut-cenut memandang hasil hbA1c milik pasien. Tertulis 9,6. Itu artinya, 3 bulan terakhir ini kadar gula darah pasien tak terkontrol.

Mesti dirunut penyebabnya.

"Nduk, kamu dah bisa nyuntik sendiri?"

Pasien DM tipe 1 akan memakai insulin seumur hidupnya. Melatih mereka untuk terampil menyuntikkan sendiri adalah sebuah keniscayaan.

Kepala gadis 13 tahun itu mengangguk.

"Yang novorapid nyuntiknya tiga kali?"

Sebelum menjawab gadis itu melirik ibunya sekilas," kadang dua kali."

"Mengapa hanya dua kali, Nduk?"

Gadis itu kembali melirik si ibu. Otak Hercules Poirot dengan sel abu-abuku segera aktif.

"Mengapa, Bu?"

Kali ini pandangan kutujukan ke ibu. Pandangan tajam yang mengiris.

"Lha anu, Dok. Mbah Parjo tetangga sebelah yang dewasa saja cuma pakai 5 unit. Masak anak saya yang masih kecil 10 unit. Apa tidak sebaiknya anak saya dikombinasikan dengan Metformin?"

Lha, ini. Pakai bawa-bawa nama Parjo segala. Nggak takut sama Giyem, apa?

"Bu, sakit gula pada anak dan dewasa itu pendekatan tidak sama. Nggak bisa dibandingkan. Lihat hasil lab anak ibu ...."

Edukasi berlanjut pada risiko komplikasi jika kadar gula tak terkontrol. Kalimat pedas level 30 meluncur dari mulutku. Gumush.

Risiko gagal ginjal. Katarak. Perkembangan seksual yang terganggu. Dan masih banyak lagi.

Si ibu kepedesan yo biar.

"Kembali ke dosis yang saya anjurkan. Kalau merasa nggak sreg, lapor ada keluhan apa. Jangan main ganti sendiri."

"Nduk, 10 unit ya. Yang sehari sekali cukup 7. Manut nggih, Nduk."

Fix terbukti sudah. Ngeyel itu termasuk komorbid yang menghambat pengobatan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar