Selasa, 28 September 2021

Seperlunya


Seperlunya

By tundjung

Rindu seperlunya.
Cinta sewajarnya.
Benci ala kadar saja.

Biarkan pikiran kita yang mengelola rasa rindu, cinta dan benci. Jangan rasa yang mengelola pikiran.

"Dok, ibu bayi HIV."

"Rawat di perinatologi saja."

Bayinya terlihat baik. Montok dan menggemaskan.

"Lha itu ibunya kapan ketahuan HIV?"

"Ya barusan di RS sini. Bidannya dapat laporan ada wanita hamil tua di sebuah rumah. Saat bidan home visit, ada 7 wanita kost di situ. Yang hamil 2 orang."

"Weleh."

"Saat Bu bidan tanya di mana suaminya, mereka cuma bilang suaminya sopir truk. Jarang di rumah."

(Maaf ya kalau ada pembaca yang berprofesi sopir truk. Atau suaminya sopir truk. Tidak ada maksud)

Aku bertemu si ibu. Untuk menjelaskan kemungkinan anaknya tertular. Serta langkah selanjutnya untuk si anak.

"Anaknya mau saya titipkan ke simbahnya di luar kota, Dok. Saya akan kembali bekerja."

"Ibu tetap mau bekerja? Sudah paham kalau bisa menularkan ke tamu?"

"Ya saya kan baru terjangkit, Dok. Belum jadi penyakit."

Aku diam. Sudah ada tim sendiri yang menerangkan tentang HIV. Kalau si ibu memutuskan untuk tetap bekerja (dan spreading virus), itu hak dia. Begitu kata tokoh HAM. Toh penularan HIV nggak semudah corona.

Bila kita melakukan jual beli seperlunya dengan memperhatikan halal haram, insyaallah nggak ketularan. Lain masalah kalau transaksi atas dasar nafsu.

Padahal sudah jelas nasihat sopir truk: rindukan aku seperlunya saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar